PENGERTIAN FILSAFAT
Filsafat adalah : tempat dimana pertanyaan – pertanyaan ini dikumpulkan. Diterangkan dan di teruskan.
Filsafat adalah : Suatu ilmu tanpa batas . filsafat tidak menyelidiki salah satu segi dari kenytaan saja, melainkan apa – apa saja yang menarik perhatian manusia.
Perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan menjadi jelas kalau kita membandingkan definisi ilmu pengetahuan dan definisi filsafat :
Ilmu pengetahuan adalah :
“ Pengetahuan metodis, sistematis dan koheren ( ” bertalian” ) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan “.
Filsafat adalah :
Pengetahuan metodis, sistematis dan foheren tentang seluruh kenyataan
Arti kata “ Filsafat ”: kata “ Filsafat ” berasal dari yunani dan berarti “ cinta akan hikmat “ atau “ Cinta akan pengetahuan “ Seorang “ Filsuf “ adalah seorang pecinta pencari (philos) hikmat atau pengetahuan (shopia) kata philosophos diciptakan untuk menerangkan sesuatu.
Asal Filsafat : Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk " Berfilsafat " Keheranan, Kesangsian dan Kesadaran Keterbatasan .
- Keheranan : Banyak filusuf menunjukkkan rasa heran ( dalam bahasa Yunani : thaumasia ) sebagai asal Filsafat. Piato misalnya mengatakan : " Mta kita memberi pengamatan bintang – bintang, Matahari dan Langit. Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki ".
- Kesangsian : Filsuf – filsuf lain, seperti misalnya Augustinus ( 354 – 430 ) dan Descartes ( 1596 – 1650 ) menunjukkan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran .
- Kesadaran akan Keterbatasan : Filsuf – Filsuf lain mengatakan bahwa manusia melalui berfilsafat kalau ia menydari betapa kecil dan lemah ia, dibandingkan dengan alam semesta sekelilingnya . ( sikap ini diungkapkan dengan bagus dalam Mazmur 8 ) semakin manusia terpaku oleh ketakterhinggaan sekelilingnya, semakin dia heran akan Eksistensinya.
Tiga Jenis Abstraksi : Keheranan, Kesangsian dan Kesadaran akan Keterbatasan mendorong manusia untuk berfikir.
Akan tetapi pemikiran ini segera saya menjadi " Metodis " Manusia berkecenderungan untuk menggunakan suatu Jalan tertentu untuk berfikir, yaitu dari hal – hal yang lebih konkret ke Prinsip – Prinsip Induk yang Abstrak. Jalan ini di terangkan oleh Aristoletes ( 384 – 322 SM ). Menurut Aristoteles pemikiran kita melewati tiga jenis " abstraksi " ( kata latin " abstrehere "menjauhkan diri ; mengambil diri " ). Setiap jenis abstraksi menghasilkan salah satu jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan " fisis ". Pengetahuan " Matematis " dan pengetahuan " teologis ". Ketiga jenis abstraksi sebagaimana dibedakan oleh Aristoletes, Masih tetap berguna untuk menerangkan hubungan antara Filsafat dan Ilmu Pengetahuan.
TAHAP PERTAMA => Fisika . Kita mulai berfikir kalau kita mengamati sesuatu keheranan, kesangsian dan kesadaran akan keterbatasan baru dapat timbul kalau sesuatu di amati lebih dulu .
TAHAP KEDUA: Mateis => Kita masih dapat melepaskan , " mengabstrahir " lebih banyak lagi. Lita dapat melepaskan materi yang kelihatan dari semua perubahan. Itu terjadi kalau akal budi melepaskan diri materi hanya segi yang dapat di mengerti ( " hylenoete " ). Berbakat abstraksi ini dapat menghitung dan mengukur, karena menghitung dan mengukur itu mugnkin lepas dari semua gejala dan semua perubahan, dengan mata tertutup.
TAHAP KETIGA => atau " Filsafat pertama " Akhirnya kita juga dapat mengabtrahir dari semua materi, baik materi yang dapat di amati maupun materi yang dapat diketahui. Kalau kita berfikir tenang keseluruhan atau kenyataan tentang asal dan tujuannya tentang jiwa manusia tentang kenyataan yang paling luhur, tentang Tuhan lalu tidak hanya bidang fisika, malainkan di bidang mateis yang ditinggalkan.
Penetahuan dari jenis ketiga ini dalam Tradisi setelah Aristoteles disebut " Metafisika " bidang yang datang setelah ( " Meta " ) fisika. Bagi Aristoteles baik bidang metafisika, bidang matematika maupun fisika masih kesatuan, yang seluruhnya disebut " Filfasat " yang Dewasa ini masih di sebut " Filsafat " Itu lebih – lebih " Filsafat Pertama " atau " Metafisika " .
Filsafat datang sebelum dan sesudah Ilmu pengetahuan. Sebelumnya karena semua Ilmu Khusus telah mulai sebagai bagian dari filsafat yang kemudian jadi Dewasa, Sperti masih kelihatan pada Aristoteles. Sesudahnya, Karena semua Ilmu menghadapi pertanyaan – pertanyaan yang mengatasi batas – batas Spesialisasi mereka. Oleh sebab itu banyak Ilmiawan sekaligus Filsuf – Filsuf kenamaan, seperti Aristoteles, Descartes, Leibniz, Pascal, Kant, Whitehead dan Einstein.
CABANG – CABANG FILSAFAT
Filsafat bertanya tentang seluruh kenyataan, tetapi selalu salah satu segi dari kenyataan sekaligus yang menjadi titik fokus penyelidikan kita. Filsafat selalu bersifat " filsafat tentang " sesuatu tertentu : filsafat tentang manusia, filsafat alam, filsafat kebudayaan, filsafat seni, filsafat agama, filsafat bahasa, filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat pengetahuan dst. Semua jenis " filsafat tentang " suatu obyek tertentu dapat dikembalikan kepada seluruh cabang in masih dapat dikembalikan lagi kepada empat bidang induk, seperti kelihatan dalam skema ini :
( 1 ) Filsafat dapat dibagilan atas :
1.1 epistemologi ( §1 )
1.2 logoka ( §2 )
1.3 kritik ilmu- ilmu ( §3 )
( 2 ) Filsafat tentang keseluruhan kenyataan :
2.1 metafisika umum ( atau ontologi ) ( §4 )
2.2 metafisika khusus, terdiri dari :
2.21 teologi metafisik ( §5 )
2.22 antropologi ( §6 )
2.23 kosmologi ( §7 )
( 3 ) Filsafat tentang tindakan :
3.1 etika ( §8 )
3.2 estetika ( §9 )
( 4 ) Sejarah filsafat ( §10 ).
Epistemologi ( 1.1 ) merupakan " pengetahuan tentang pengetahuan ".
Logika ( 1.2 ) menyelidiki aturan – aturan yang harus diperhatikan supaya cara berpikir sehat. Kritik ilmu – ilmu ( 1.3 ) menyelidiki titik pangkal, metode dan obyek dari ilmu – ilmu. Ontologi ( 2.1 ) merupakan pengetahuan tentang " semua pengada sejauh mereka ada ". Teologi metafisik ( 2.21 ) ( juga disebut " teodise " dan " filsafat ketuhanan " ) berbicara tentang pertanyaan apakah Tuhan ada tentang nama – nama ilahi. Antropologi ( 2.22 ) berbicara tentang manusia. Kosmologi ( 2.23 ) ( juga disebut " filsafat alam " ) berbicara tentang alam,kosmos. Etika ( 3.1 ) ( juga disebut " filsafat moral " ) berbicara tentang tindakan manusia. Estika ( 3.2 ) ( juga disebut " filsafat seni " ) mencoba untuk menyelidiki mengapa sesuatu dialami sebagai indah. Sejarah filsafat dunia ( 4 ) mengajar apa jawaban pemikir – pemikir sepanjang jaman atas pertanyaan – pertanyaan manusia.
Tidak semua filsuf setuju dengan pembagian seperti diuraikan di sini. Ada filsuf – filsuf yang menyangkal kemungkinan ontologi atau kemungkinan seluruh metafisika. Namun, pembagian seperti di atas ini merupakan skema yang paling klasik dan paling umum di terima. Semua cabang dibicarakan secara singkat.
1 : Epistemologi. Semua cabang filsafat terdiri dari pengetahuan . Apa itu " pengetahuan" ? Sesuatu yang berasal dari pengamatan ? Ataukah justru dari interaksi pancaindra dan akal budi ? Ataukah pengetahuan lebih bersifat intuitif ? Apakah kita dapat mencapai kepastian bahwa pengetahuan benar ? Apakah senua pengetahuan tidak bersifat hipotetis ?
Pertanyaan – pertanyaan tentang kemungkinan – kemungkinan pengetahuan, tentang batas – batas pengetahuan, tentang asal dan jenis- jenis pengetahuan, dibicarakan dalam epistomologi. Kata " epistomologi " berarti " pengetahuan ( dari kata Yunani " logia " ) tentang pengetahuan ( episteme ) . Dalam sejarah filsafat kelihatan suatu gerakan – gelombang dari periode – periode perkembangan dan jaman – jaman skeptisis. Setelah setiap kali tercapai suatu puncak dalam pemikiran, orang mulai ragu – ragu. Orang bertanya apakah kita didunia ini memang pernah akan mampu untuk mencapai kepastian tentang kebenaran pengetahuan kita.
Skeptisisme merupakan sesuatu yang ditemukan sepanjang sejarah, tetapi skeptisime memang udah lama diatasi. Pemikir – pemikir seperti Augustinus dan Descarter telah memperlihatkan bahwa skeptisisme tidak dapat dipertahankan secara konsekuen. Skeptisis – skeptisis menyangsingkan apa – apa saja, tetapi sekurang – kurangnya satu hal tidak diragukan oleh mereka, yaitu titik pangkal mereka sendiri, pendapat bahwa apa – apa saja dapt diragukan. Kelihatannya setiap manusia, juga seorang skeptisis, menerima bahwa sekurang – kurangnya ada beberapa hal yang pasti.
Mengenai unsure-unsur yang main peranan dalam proses pengetahuan terdapat banyak pendapat. Ada dua aliran falsafi yang main peranan besar dalam diskusi tentang proses pengetahuan , yaitu “rasionalisme” dan “ empirisme”.
Rasionalisme ( dari kata Latin “ ratio”, akal budi “) mengajar bahwa akal budi merupakan sumber utama untuk pengetahuan . Rasionalisme mempunyai akar-akar yang sangat tua , tetapi dalam jaman modern (setelah sekitar 1600) rasionalisme mendapat tekanan baru pada filsuf-filsuf seperti Descartes , Spinoza dan Liibniz. Lawan rasionalisme , empirisme (dari kata Yunani “emperiria”,pengalaman “) mengajar bahwa pengetahuan berasal dari dari pengalaman inderawi, bukannya dari akal budi . Karena akal budi disisi dengan kesan-kesan ini oleh oleh akal budi dihubungkan , sehingga terjadi ide-ide majemuk . Emperisme merupakan suatu aliran yang terutama di Inggris ditemukan . Tokoh-tokoh empirisme itu antar lain Bacon , Locke dan Hume .
Emperisme dan rasionalisme didamaikan oleh Immanuel Kant , yang memperlihatkan bagaimana peranan pencaindera dan akal budi , dalam suatu analisa raksasa dari seluruh proses pengetahuan, dengan semua unsurnya yang main peranan . Setelah Kant, epistemologi merupakan cabang filsafat yang sangat berkembang . Banyak filsuf masa kini lebih-lebih terkenal sebagai “epistemolog”.
2: Logika . Logika ( dari kata Yunani “logikos”, “berhubungan dengan pengetahuan”,
“berhubungan dengan bahasa “) merupakan cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan cara berpikir , aturan-aturan mana yang harus dihormati supaya pernyataan-pernyataan kita sah . Logika tidak mengajar apa pun tentang manusia atau dunia. Logika hanya merupakan suatu teknik aau “ seni “ yang mementingkan segi formal , bentuk dari pengetahuan .
Suatu argumentasi betul kalau semua langkah dari argumentasi itu betul. Langkah-langkah ini terdiri dari kalimat-kalimat (“proposi-proposi”), dan setiap kalimat terdiri dari suatu subjek dan sebuah predikat . Mari kita ambil contoh ini :
“ Kalau semua orang Yogya senang makan ayam ( A ) ,
Dan kalau Saudara M seseorang penduduk dari Yogya ( B ),
maka Saudara M senang makan ayam “ ( C ).
Argumentasi ini terdiri dari tiga kalimat . Kalimat A dan B disebut “premis-premis”, kalimat C disebut “konklusi” . Setiap kalimat terdiri dari subjek ( yaitu “ semua orang Yogya “ dan “Saudara M.”) dan predikat (yaitu “senang makan ayam “ dan “ penduduk dari Yogya”).
Nah, dalam logika diselidiki syarat-syarat yang harus di penuhi supaya kesimpulan yang ditarik dari premis-premis dapat disebut “ sah “.
Usaha ini kelihatanya sederhana, tetapi soal-soal yang dibicarakan dalam logika memang sangat kompleks .
Setiap kalimat terdiri dari “term – term “ (yaitu subjek dan predikat). Term – term ini dapat bersifat tunggal (misalnya “binatang”) atau majemuk (misalnya “binatang bersayap”) , tertentu (“manusia”) atau tak tertentu (“bukan manusia”), konkret (“udara lembab”) atau abstrak (“kelembapan “) , positif (“hidup”) atau negatif (“tidak hidup”) . Semua disting ini penting , karena sifat-sifat dari suatu term membawa syarat-syarat tertentu utnuk pemakainnya . Juga penting pembedaan macam-macam jenis proposi , misalnya proposi-proposi “konjuktif” (“ A dan B pergi ke Jakarta “) , proposi-proposi “disjunktif” (“A atau B pergi ke Jakarta “) , proposi-proposi “alternative (“ Selalu atau Atau B yang pergi ke Jakarta “) , proposi-proposi “hipotesis” (“Kalau…, maka ….”), dan seterusnya . Semua jenis kalimat ini mempunyai aturan-aturan pemakaian tersendiri.
Logika dalam bentuk ini disebut ini disebut “logika klasik”. Logika klasik berkembang pada Aristoteles (348-322 SM) dan pada banyak filsufut dari Abad Pertengahan . Sekarang dibedakan suatu jenis logika baru-disamping logika klasik – yaitu “Logika matematis” yang juga disebut “logika formal” atau “logistik” , Logika matematis dikembangkan antara lain oleh Frege , Whitehead dan Russell.
3: Kritik ilmu-ilmu : Perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mula mula kecil sekali . Dalam jaman kuno, di Yunani disamping filsafat hanya dibedakan empat ilmu , yaitu
Logika , ilmu pasti , ilmu pesawat dan kedokteran . Kedokteran dan Logika lebih dipandang sebagai “seni”atau “keahlian” daripada sebagai dari ilmu. Kebanyakan ilmu yang dibedakan sekarang berasal dari jaman renesanse , atau lahir pada gelombang kedua yaitu, sekitar tahun 1800 dan sesudahnya . Misalnya sosiologi , psikologi dan psikoanalisa masih sangat muda . Ilmu-ilmu lain , seperti ekologi, (ilmu keseimbangan lingkungan hidup) lebih muda lagi .
Ilmu-Ilmu dapat dibagikan atas tiga kelompok :
· ilmu-ilmu formal (matematika dan logika)
· ilmu-ilmu empiris-formal (misalnya ilmu alam , ilmu hayat)
· ilmu-ilmu hermeneutis (seperti sejarah ,ekonomi)
Ada orang yang mengatakan bahwa ilmu-ilmu hermeneutis tidak “ilmiah” , karena disini tidak dicapai kepastian . Dalam ilmu sejarah misalnya tidak “diterangkan “, sesuatu , melainkan hanya “dimengerti” sesuatu hanya diberi suatu interprestai atas fakta-fakta dan tidak pernah dicapai kepastian bahwa interprestasi ini betul . Orang lain mengatakan bahwa juga ilmu – ilmu imperis formal memang selalu bersifat hipotesis , sehingga distingsi antara ilmu-ilmu empiris – formal dan ilmu-ilmu hermenuutis tidak begitu penting .
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini termasuk “kritik ilmu-ilmu”.
Teori-teori tentang pembagian ilmu-ilmu . tentang metode ilmu-ilmu, tentang dasar kepastian dan tentang jenis-jenis keterangan yang diberikan , tidak lagi termasuk bidang ilmu pengetahuan sendiri , melainkan merupakan suatu cabang dari filsafat . Cabang ini , “Kritik ilmu-ilmu “ atau “filsafat ilmu pengetahuan “ pada dewasa ini semakin penting.
4: Metafisika Umum . Filsafat menyelidiki seluruh kenyataan . Tetapi kalau manusia ingin berbicara tentang “segala sesuatu sekaligus “, lalu jelas bahwa ia menghadapi kesukaran-kesukaran yang agak besar. Dalam logika diajar suatu prinsip yang mengatakan : “makin besar ekstensi suatu istilah atau pertanyaan , makin kecil komprehensi istilah atau pertanyaan itu”. Artinya : isi (komprehensi) suatu kata atau kalimat itu sangat besar , dan sebaliknya .
Dalam perkataan-perkataan tentang kenyataan pada umumnya , ekstensi begitu besar , sehingga komprehensi hampir tidak berarti lagi. Metafisika umum (atau “ontologi”) berbicara tentang segala sesuatu sekaligus . Lalu itu hanya mungkin kalau komprehensi perkataan-perkataan kecil sekali. Metafisika umum hanya bebicara tentang segala sesuatu sejauh itu “ada” . “Adanya “ segala sesuatu merupakan suatu “segi” dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan mahluk-mahluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu . Semua benda , tumbuh-tumbuhan , binatang-binatang dan orang merupakan suatu “pengada” . Kata Yunani untuk “pengada” adalah “on” (genetif “ontos”) . Oleh karena itu pengetahuan tentang pengada-pengada , sejauh mereka ada , disebut “ontologi’ . Pertanyaa-pertanyaan dari antologi itu mislanya “Apakah alam raya adalah peredaraan abadi dimana semua gejala selalu kembali , seperti dalam siklus musim-musim , atau justru suatu proses atau perkembangan ?” Kemungkinan dan manfaat dari metafisika umum juga sering dipandang sebagai puncak dari Filsafat . Karena pertanyaan-pertanyaan dari antologi langsung berhubungan dengan sikap manusia terhadap pertanyaan paling dasar , yaitu pertanyaan tentang adanya Transendensi atau Allah yang sangat abstrak , tetapi yang sekaligus sangat cocok , yaitu nama “Mengada “ (dalam bahasa Inggris “ Letting Be “, dalam bahasa Latin “Else”). Sumber dari segala sesuatu-sejauh itu ada – Pencipta dari seluruh ciptaan , adalah Tuhan .
Jenis ontologi ini dari satu fihak menarik , karena disini ditemukan kemungkinan untuk menterjemahkan istilah-istilah pokok dari agama-agama dalam istilah-istilah falsafi. Dari lain Fihak jenis ontologi ini juga dikritik karena didepan Allah sebagai " Mengada " manusia tidak dapat berlutut, dan kepada " Letting - be " ia tidak dapat berdo'a.
Jawaban – jawaban yang diberikan atau pertanyaan – pertanyaan yang dirumuskan dalam ontologi mengungkapkan suatu kepercayaan. Sekarang dibedakan empat jenis " kepercayaan ontologi " yaitu ateisme,agnostisisme, panteisme dan teisme.
Ateisme ( dari bahasa Yunani " a " " bukan ", dan " theos ", " Allah " ) mengajar bahwa Allah tidak ada, Bahwa manusia sendirian dalam kosmos, sendirian dibawah surga yang kosong.
Agnostisisme ( dari bahasa Yunani " a-" " bukan " dan " gnosis " " pengetahuan " ) mengajar bahwa tidak dapat diketahui apakah Allah ada atau tidak ada, sehingga pertanyaan tentang Allah selalu terbuka .
Panteisme ( dari bahasa Yunani " pan " " segala sesuatu" dan " theos ", " Allah " ) mengajar bahwa seluruh kosmos sama dengan Allah, sehingga tidak ada perbedaan antara Pencipta dan Ciptaan. Allah dan Alam itu sama saja, sehingga panteisme huga dapat disebut theo- pan –isme .
Teisme mengajar bahwa Allah itu ada, bahwa terdapat perbedaan antara Pencipta dan Ciptaan dan bahwa Allah boleh disebut " Engkau " dan " penyelenggara"
Ontologi atau metafisika umum merupakan cabang filsafat yang sekarang ini sangat problematic. Menurut banyak filsuf masa kini, cabang ini tidak mungkin, karena manusia di sini melewati batas – batas kemungkinan – kemungkinan akal budinya.
5 : Teologi Metafisik. Metafisika khusus terdiri dari teologi metafisik, antropologi dan Teologi metafisik berhubungan erat dengan ontologi .
Dalam teologi metafisik diselidiki apa yang dapat dikatakantentang adanya Allah, lepas dari agama, lepas dari wahyu. Teologi metafisik tradisional biasanya terdiri dari dua bagian : Bagian pertama berbicara tentang " bukti – bukti " untuk adanya Allah. Bagian yang kedua berbicara tentang nama – nama illahi. Kedua tema ini masih tetap penting, tetapi sekarang dalam teologi metafisik diberikan banyak perhatian kepada " bahasa " tentang Allah, bahasa religius, bahasa teologis, bahasa Kitab Suci dan bahasa doa. Oleh karena itu teologi metafisik ( atau " teologi falsafi " ) juga disebut " meta – teologi ". Karena diadakan suatu refleksi tentang bahasa teologi, sesuatu yang dating " sesudah "
( " meta " ) teologi sendiri, seperti metafisika dating sesudah fisika dan meta – etika datang sesudah etika .
Yang Dapat dikatakan tentang Allah, lepas dari agama, tentu saja sedikit sekali. Teologi metafisik hanya menghasilkan suatu kepercayaan yang sangat sederhana dan cukup miskin dan abstrak. Namun, yang sedikit ini sangat berguna dalam dialog dengan agama – agama lain, dengan agnotisme, panteisme dan ateisme. Karena orang yang mempunyai pendapat lain dari pada kita tentanag Allah, tidak akan menerima argument yang berasal dari teologi yang terikat pada suatu " wahyu " khusus, tetapi mereka akan menerima argument – argument yang hanya berdasarkan pemakaian akal budi, karena akal budi merupakan milik umum.
Imam falsafi yang dicapai dalam teologi metafisik tidak cukup. Iman ini dalam tradisi sering disebut " praeambulum fideib " ( " langkah sebelum iman " ) atau " ambang pintu " dan " persiapan " untuk iman.
Teologi metafisik juga disebut “ teodise “. Nama ini kurang cocok. Karena teodise memang hanya bagian kecil dari teologi metafisik. Teodise ( dari kata Yunani “ theos “ Allah “ dan “ dike “, “ pembenaran “ ‘pengadilan “ ) mencoba menerangkan bahwa kepercyaan kepada Allah tidak bertentangan dengan kenyataan kejahatan. Kenyataan kejahatan merupakan sebab terpenting bahwa banyak orang tidak dapat percaya akan Allah, atau, bahwa mereka tidak dapat bahwa Allah Mahabaik dan Mahakuasa. Peranan teodise dalam teologi metafisik dahulu begitu penting sehingga sering cabang filsafat ini disebut “ teodise “.
Teologi metafisik sekarang ini masih tetap merupakan usaha untuk menciptakan ruang untuk dialog antara iman dan akal budi. Dialog ini sekarang lebih – lebih bersufat dialog dengan ateisme.
6: Antropologi . Cabang filsafat yang berbicara tentang manusia disebut “ antropologi” ( dari kata Yunani “ antro – pos “ “ manusia “). Setiap filsafat mengandung secara eksplisit atau implicit suatu pandangan tentang manusia, tentang tempatnya dalam kosmos, tentang hubungannya dengan dunia, dengan sesama dan dengan Transendensi. Menurut Immanuel Kant pertanyaan “ Manusia siapa dia dulu ? ) merupakan pertanyaan – pertanyaan satu- satunya dari filsafat. Semua pertanyaan lain dapat dikembalikan kepada pertanyaan ini.
Manusia hidup dalam banyak dimensi sekaligus. Manusia adalah sekaligus meteri dan hidup, badan dan jiwa, ia mempunyai kehendak dan pengertian. Manuisa merupakan seorang individu, tetapi ia tidak dapat hidup lepas dari orang lain. Dalam manusia terdapat pertemuan antara kebebasan dan keharusan, antara masa lampau yang tetap dan masa depan yang masih terbuka.
Semua dimensi ini, semua pikiran dan kegiatan manusiawi berkumpul dalam satu kata, yaitu kata “ aku “ kata “ aku “ dipakai sebagai titik simpul dari banyak hal sekaligus. Akan tetapi kata ini yang begitu nudah dipakai dan kelihatan begitu sederhan, sebenarnya hanya satu petunjuk suatu “ kata – indeks “ untuk suatu misteri. Di belakang kata “aku “ terdapat suatu dunia pribadi, penuh relasi – relasi, sejarah, kegembiraan dan penderitaan, harapan dan keputusasaan, suatu pandangan tentang dunia, sesame dan tujuan hidup.
Pertanyaan entang manusia tentu saja mempunyai sejarah yang panjang. Tetapi baru saja sejak jaman renesase, sekitar tahun 1500, manusia betul – betul menjadi titik pusat dari filsafat. Sejak jaman renesase manuisa hendak dipandang sebagai pusat sejarah, pusat pemikiran, pusat kehendak, kebebasan dunia. Itu antara lain dalam seni dan pelbagi ilmu yang alhir sejal jaman renesase, yang mempunyai kenyataan manusiawi sebagai obyeknya : ekonomi, sosiologi, psikologi, psikoanalisa dan seterusnya.
Semua ikmu ini telah menghasilkan pengetahuan yang kuas tentang manusia. Walaupun demikian, pertanyaan “ pertanyaan siapa dia itu “ ? masih tetap terbuka.
7: Kosmologi. Kosmologi atau “ filsafat alam” berbicara tentang dunia. Kata yunani “ Kosmos” berbicara tentang lawannya dari “ chaos “, sekaligus “ dunia’, “ aturan “ dan “ keseluruhan teratur”. Cabang filsafat ini sangat tua. Ribuan tahun yang lalu dimedir dan Mesopotamia, manusia sudah bertanya tentang asal alam semesta. Untuk menemukan kesatuan dalam kemajemukan, dicari unsure induk dari segala suatu.
Kosmologi berkembang di Yunani dan memberi hidup kepada ilmu alam. Ilmu alam sudah lama dewasa dan dipilih sebagai model untuk banayak ilmu lain.
Memang dapat dipersoalkan apakah masih ada tempat untuk filsafat alam di samping suatu ilmu alam yang begitu maju dan luas seperti fisika. Kelihatannya pertanyaan ini dijawab oleh ahli – ahli fisika sendiri, karena banyak ahli fisika terkemuka sekaligus kosmolog kanamaan. Dalam jaman kuno misalnya Aristoteles dan ptolemaeus, dalam jaman modern Alilei dan Newton, dan dalam jaman sekarang misalnya Einstein. Sebagai kosmolog mereka bertanya tentang hal- hal “ dibelakang “ kenyataan fisis. Pertanyaan- pertanyaan dari filsafat alam itu misalnya Evolusi, soal kebebasan dan determinisme, definisi “ materi “, definisi “ “ enersi “ “ hidup “ dam soal – soal berhubungan dengan konsekuensi – konsekuensi etis dari kemajuan teknik.
Bersama dengan spesialisasi ilmu alam yang sangat maju, dirasa keperluan akan suatu refleksi yang lebih mendalam yang sangat memperhatikan keseluruhan. Refleksi ini merupakan bidang kosmologi. Kosmologi merupakan rangka umum dimana hasil- hasil dari ilmu alam, dapat dipasang. Teori – teori umum itu, sekarang ini dikemukakan oleh antara lain E. Mach ( 1838 – 1916 ), H. Hertz ( 1859 – 1894 ), M. Plank ( 1858 - 1947 ) dan A. Einstein ( 1879 – 1955 ). Kosmologi sekarang memandang alam sebagai suatu “ proses “ . Kosmos itu bukan sitem tetap adan tak tehingga, melainkan suatu proses perkembangan.
8: Etika. Etika atau “ filsafat moral “ adalah cabang filsafat yang berbicara tentang “ praksis “ manusiawi, tentang tindakan.
Kata “ Etika “ barasal dari Yunani “ ethos “, “ adat “ “ cara bertindak “, “ tempat tinggal “ “ Kebiasaan “ . Kata “ moral “ berasal dari latin “ mos “ ( genetif “ moris “ ) yang mempunyai arti yang sama. Etika dibedakan dari semua cabang filsafat lain karena tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan bagaimana ia harus bertindak.
Tindakan manusia ditentukan oleh macam – macam norma. ( Kata Latin “ norma “ berarti “ suku “ ). Norma – norma dapat dibagi atas norma – norma sopan santun, norma – norma hukum dan norma – norma moral. Norma moral, datang dari “ suara batin “. Norma – norma ini merupakan bidang etika, Etika menolong manusia untuk mengambil sikap terhadap semua norma dari luar dan dari dalam, supaya manusia mencapai kesadaran moral yang “ otonom “
Sepanjang sejarah filsafat diberikan petunjuk etis, pedoman- pedoman untuk hidup lebih berbahagia. Plato dan Aristoteles sudah menyusun suatu etika. Filsuf – filsuf moral kenamaan lain itu misalnya Hildebrand. Filsafat Cina sebagian besar etika. Juga dalam Hinduisme dan Buddhisme terus – menerus dipentingkan jalan untuk mencapai kebahagiaan.
Etika menyelidiki dasar semua norma – norma moral. Menurut orang kristiani dasar itu terletak dalam perintah utama: mencintai Tuhan dan mencintai sesame. Saya wajib melakukan kebaikan dan keadilan karena saya percaya bahwa Tuhan memerintahkan itu. Akan tetapi orang lain menemukan dasar etika mereka dalam sesuatu yang lain, misalnya dalam prinsip bahwa “ akibat baik yang maksimal “ harus merupakan norma dasar. Orang lain, misalnya Kant, mengajar bahwa bukan akibat tindakan, melainkan sikap kita yang paling penting. Sikap kita harus sedemikian rupa sehingga kaidah pribadi kita dapat menjadi hokum umum.
Dalam etika biasanya dibedakan “ etika dekskriptif “ dan “ etik normatife “. Etika deskriptif memberi gambaran dari gejala kesadaran moral ( “ suara batin “ ), dari norma – norma dan konsep – konsep etis. Etika normatife tidak berbicara tentang gejala – gejala, melainkan tentang apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan kita. Dalam etika normatife, norma – norma dinilai,dan sikap manusia ditentukan.
§ 9: Estetika. Estetiaka ( dari kata Yunani “ aisthèsis “, “ pengamatan “ ) adalah cabang filsafat yang berbicara tentang ke indahan. Dlam pengalaman atas dunia sekeliling kita ditemukan suatu bidang yang disebut “ indah “.
Pengalaman akan keindahan merupakan obyek dari estetika. Mengapa justru obyek – obyek tertentu atau bidang – bidang tertentu sangat menarik unuk manusia? Dalam estetika dicari “ hakekat “ dari “ keindahan “, bentuk – bentuk pengalaman keindahan ( seperti keindahan jasmani, dan keindahan rohani,keindahan alam dan keindahan seni ), dan diselidiki emosi – emosi manusia sebagai reaksi terhadap yang indah, yang agung yang tragis, yang bagus, yang mengharukan dan seterusnya. Mengapa kita sangat tertarik pada pengalaman karya – kraya seni tertentu? Mengapa materi dunia atau hidup kita kadang – kadang seakan- akan ” transparan “ sehingga kita melihat atau mendengar lebih banyak dari pada yang memang kelihatan atau terdengar.
Seperti dalam etika, juga dalam estetika dibedakan antara suatu bagian deskriptif dan suatu bagian normatif. Estika deskriptif menggambarkan gejala – gejala pengalaman keindahan, sedangkan Estetika normatife mencari dasar pengalaman itu. Misalnya ditanyakan apakah keindahan itu akhirnya sesuatu yang obyektif ( “ terletak dalam lukisan “ ) atau justru subyektif ( “ terletak dalam mata manusia sendiri “ )
Banyak filsuf telah menyusun suatu estetika. Sering juga dicoba untuk menyusun suatu “ hirarki “ bentuk – bentuk seni. Seperti pada Hegel ( 1770 – 1831 ) dan Schopenhauer ( 1788 – 1850 ). Hegel membedakan suatu rangkaian seni – seni yang mulai pada arsitektur dan berakhir pada puisi. Makin kecil unsure materi dalam suatu bentuk seni, makin tinggi tempatnya atas tangga hirarki. Schopenhauer melihat suatu rangkaian yang mulai pada arsitektur dan memuncak dalam musik. Musik mendapat tempat istimewa dalam estetika. Banyak pemikir dari sejarah telah berbicara tentang musik, dari Konfusius, Pythagoras, Plato dan Aristoteles, sampai Schopenhauer, Nietzsche dan Poper Nusik dibandigkan dengan mistik, dengan khayalan falsafi dan dengan magi. Musik digambarkan sebagai suatu bentuk “ wahyu “ yang masih berbicara tentang Transendensi, kalau pengertian manusia sudah tidak kuat lagi. Musik dapat menungkapkan hal – hal yang tidak dapat diekspresikan dengan kata – kata.
10: Sejarah filsafat . Dalam sejarah kita bertemu dengan hasil penyelidikan semua cabang filsafat. Sejarah filsafat mengajar jawaban – jawaban yang diberikan oleh pemikir – pemikir besar, tema – tema yang dianggap paling penting dalam periode – periode tertentu da aliran – alira besar yang menguasai pemikiran selama suatu jaman atau disuatu bagian dunia tertentu.
Cara berpikir tentang manusia, tentang asal dan tujuan, tentang hidup dan kematian, tentang kebebasan dan cinta, tentang yang baik dan yang jahat, tentang materi dan jiwa, alam dan sejarah. Tetapi ada banyak pertanyaan dan jawaban yang selalu kembali, disegala jaman dan disemua sudut dunia. Oleh karena itu sejarah filsafat sesuatu yang sangat penting. Karena dalam sejarah filsafat seakan – akan diadakan suatu dialog antara orang dari semua jaman dan kebudayaan tentang pertanyaan – pertanyaa yang paling penting.
Dalam sejarah filsafat biasanya dibedakan tiga tradisi besar : Filsafat india, Filsafat Cina, filsafat barat. Antara ketiga tradisi ini ada banyak parallel, terutama antara filsafat India dan filsafat barat. Satu hal yang menonjol ialah bahwa abaik india dan cina maupun dalam barat , hidup intelektual menjadi dewasa ( dengan melepaskan diri dari corak berpikir “ mitis “ ) dalam periode antara 800 dan 200 senelum masehi. Dalam periode ini hidup Konfusius dan Lao Tse di cina,Gautama Buddha dan peyusun – penyusun Upanisad di India, Parmenides, Herakleitos, Sokrates, Plato dan Aristoteles di Yunani atau koloni – koloni Yunani, Zoroaster di Persia, nabi – nabi besar di Israel.
Dengan “ filsafat cina “ dan “ filsafat India “ dimaksudkan dua tradisi dari ribuan tahun yang terikaat pada keadaan goegrafisfilsafat India “ dimaksudkan dua tradisi dari ribuan tahun yang terikaat pada keadaan goegrafis, politis dan cultural dari cina dan sub kontinen india. Di bandingka dengan kedua tradisi ini, radusu ketiga, filsafat barat, sesuatu yang tidak begitu jelas. Karena tradisi “ filsafat barat “ telah mulai di asia kecil dan memuat pemikir – pemikir dan aliran – alairan dari Eropa, Asia, Afrika dan Amerika. Termasuk filsafat barat : filsafat Yunani, filsafat Hellenistis, filsafat kristiani, filsafat islam, filsafat jaman renesanse, jaman modern dan masa kini.
Sejarah filsafat dunia merupakan sesuatu sumber pengetahuan, pengalaman, hikmat dan iman yang luar biasa. Sejarah filsafat merupakan suatu cermin bagi manusia. Pertanyaan – pertanyaan dan ide – ide manusia sekarang ditemukan kembali disini dalam suatu prespektif yang sangat luas, yang mengatasi batas – batas agama, batas- batas bahasa, batas – batas jaman dan kebudayaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar